WALI NANGGROE ACEH: PERUBAHAN BUDAYA DAN POLITIK ACEH DALAM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)

Authors

  • M. Ridhwan Universiti Sultan Zainal Abidin, Terengganu
  • Y. Ibrahim Universiti Sultan Zainal Abidin, Terengganu

DOI:

https://doi.org/10.56806/jh.v3i2.90

Keywords:

Peranan Wali Nanggroe, Pengekalan Wali Nanggroe, Rekontruksi Hukum

Abstract

English. The purpose of this study is to identify the use of the Wali Nanggroe system during the first Aceh civilization from the application of the Wali Nanggroe system after entering Indonesia. The purpose of this research is to look at the impact of the Wali Nanggroe Law on development and governance in Aceh. This study employed a triangulation strategy to data collecting, including interviews, literature reviews, and questionnaires. The interview data was evaluated using NVIVO 12. The research findings show discrepancies between the current Wali Nanggroe system and the Kingdom of Aceh Darussalam's period. Historically, Wali Nanggroe refers to the supreme ruler who succeeded the Sultan. Furthermore, the Indonesian central government deployed Wali nanggroe in the Aceh conflict. Furthermore, Wali nanggroe has evolved from the Helsinki MoU, a peace treaty between Indonesia and GAM. Wali nanggroe is an institution that links customs and preserves prosperity, justice, and peace; it also performs other tasks as specified in the Aceh Qanun for wali nanggroe institutions nos. 8, 9, and 10. Wali nanggroe are currently part of the Indonesian state system. Wali Nanggroe's presence is meant to reinforce Aceh's identity. The heritage of the Aceh kingdom's sultanate civilisation, which includes customary institutions and Islamic law enforcement organizations, does not imply that the burden for applying Islamic law is primarily the responsibility of government authorities.

Bahasa. Artikel ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk membedakan penerapan sistem Wali Nanggroe pada masa peradaban Aceh pertama dengan sistem Wali Nanggroe setelah masuk ke Negara Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh UU Wali Nanggroe terhadap pembangunan dan pemerintahan di Aceh. Untuk pengumpulan data, penelitian ini menggunakan pendekatan triangulasi seperti wawancara, studi pustaka, dan angket. NVIVO 12 digunakan untuk mengevaluasi data wawancara. Temuan penelitian mengungkapkan perbedaan antara sistem Wali Nanggroe saat ini dan zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Secara historis, istilah Wali Nanggroe menunjukkan penguasa tertinggi yang menggantikan Sultan. Selanjutnya, Wali nanggroe telah digunakan dalam perang Aceh dari pemerintah pusat Indonesia. Lebih lanjut, Wali nanggroe sekarang adalah organisasi yang lahir dari MoU Helsinki, perjanjian damai antara Indonesia dan GAM. Wali nanggroe adalah lembaga yang menghubungkan adat dan memelihara kemakmuran, keadilan, dan perdamaian; itu juga memiliki fungsi tambahan sebagaimana diatur dalam Qanun Aceh untuk lembaga wali nanggroe No. 8, 9, dan 10. Wali nanggroe sekarang termasuk ke dalam struktur negara Indonesia. Kehadiran Wali Nanggroe diharapkan dapat membantu memperkuat identitas Aceh. Warisan peradaban kesultanan kerajaan Aceh yang terdiri dari lembaga adat dan lembaga penegak hukum Islam, tidak berarti bahwa tanggung jawab pelaksanaan hukum Islam semata-mata merupakan tugas instansi pemerintah

Downloads

Download data is not yet available.

References

Hasanuddin Yusuf Adan, Sejarah Aceh dan Tsunami, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,2005)

H.M. Said, Aceh Sepanjang Abad jilid II,(Medan: Harian Waspada,2007)

Darwis A Soelaiman ed, Aceh Bumi Iskandar Muda, (Pemerintah Provinsi NAD,2008).

Otto Syamsuddin Ishak, Aceh Pasca Konflik;Kontestasi 3 Varian Nasionalisme,(Banda Aceh: Bandar Publishing,2013), hlm.203.

Al-Chaidar, Gerakan Aceh Merdeka Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam,(Jakarta: Madani Press,1999).

Mushahid Ali. (2013). Aceh’s new cultural leader : former separatist now guardian of state. (RSIS Commentaries, No. 230). RSIS Commentaries. Singapore: Nanyang Technological University.

Michael Oakeshott, Rationalism in Politics and other essays (London: Methun & Co.Ltd, 1967)

Russel Kirk, The Politics of Prudence, Detroit: ISI Books, 199.

Hampsher-Monk, The Political Philosophy of Edmund Burke (London: Longman, 1987).

Matthew Festenstein dan Michael Kenny, Political Ideologies (Oxford: Oxford University Press, 2005), hlm.119-174.

konservatisme dan Nilai Asia seperti Garry Rodan, “The Internationalization of Ideological Conflict: Asia’s New Significance”, The Pacific Review, 9, no. 3 (1996)

Richard Robison, “The politics of ‘Asian Values”, The Pacific Review, 9, no. 3 (1996).

Kanishka Jayasuriya, “Understanding ‘Asian values’ as a form of reactionary modernization”, Contemporary Politics, 4, no.1(1998).

Burke, Reflections, hlm.106 dan 153; Noel O’Sullivan, Conservatism (London: Bent, 1976).

William Case, “Semi-Democracy in Malaysia: Withstanding the Pressures for Regime Change”, Pacific Affairs, 66, no. 2 (1993).

William Case, “Malaysia’s Resilient Pseudodemocracy”, Journal of Democracy,12, no. 1(2001)

Jimly Assiddiqie, 2005, Hukum Acara Pengujian Undang-undang, Yarsif Watampane, Jakarta.

F. Isjwara, 1995, Pengantar Ilmu Politik, Cetakan Kesepuluh, Bina Cipta, Bandung.

R.S Milne dan Diane K.Mauzy, Malaysian Politics under Mahathir (London: Routledge, 1999).

Kenneth Christie, “Regime Security and Human Rights in Southeast Asia”, Political Studies, 43 (1995).

Michael Freeman, “Human Rights, democracy and ‘Asian Values”, The Pacific Review, 9, no. 3 (1996).

Khoo Boo Teik, “The Value(S) Of A Miracle: Malaysian and Singaporean Elite Constructions of Asia”, Asian Studies Review, 23, no. 2 (1999).

Downloads

Published

2022-06-30

How to Cite

Ridhwan, M., & Ibrahim, Y. (2022). WALI NANGGROE ACEH: PERUBAHAN BUDAYA DAN POLITIK ACEH DALAM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI). JURNAL HURRIAH: Jurnal Evaluasi Pendidikan Dan Penelitian, 3(2), 91-101. https://doi.org/10.56806/jh.v3i2.90